Sudah Ada Ribuan Tahun Lalu, Kue Keranjang Jadi Simbol Perayaan Imlek


StudioTangkas - Kue keranjang merupakan sajian wajib saat Imlek. Selain menjadi simbol dan tradisi, kue keranjang juga memiliki sejarah dan simbol yang menarik.

Nian Gao atau dikenal dengan sebutan kue keranjang di Indonesia, merupakan kue tradisional yang dibuat menggunakan tepung ketan dan gula. Tekstur dari kue ini kenyal, dan sedikit lengket. Dalam tradisi orang Tionghoa, kue keranjang merupakan hidangan wajib yang harus ada saat perayaan tahun baru Imlek.

Kue keranjang tak hanya terkenal di Indonesia saja, di negara lain, terutama di Asia, kue keranjang jadi hidangan yang paling diburu jelang Imlek. Kue dengan bentuk sederhana ini, memiliki sejarah yang cukup panjang, dan dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Dilansir dari China Highlights (22/01), berikut sejarah dan fakta menarik seputar kue keranjang.

Nian gao atau kue keranjang ini dipercaya sudah ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Tepatnya pada awal Dinasti Liao (907-1125). Saat itu orang-orang di Beijing, sering memesan kue untuk dimakan saat perayaan tahun baru Imlek (Lunar Year).

Dari sana lah cikal bakal dibuatnya Nian Gao yang saat itu belum populer. Namun pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, kue keranjang ini sudah jadi camilan yang populer di kalangan masyarakat. Kue keranjang terus dibuat dan dilestarikan hingga sekarang.

Nian Gao sendiri memiliki artian 'tahun tinggi'. Nian Gao atau kue keranjang ini, jadi simbol untuk pendapatan yang lebih tinggi, jabatan yang lebih tinggi, pertumbuhan keluarga, hingga harapan di tahun baru agar semuanya menjadi lebih baik.

Jika sebagian orang percaya bahwa Nian Gao datang dari Dinasti Liao, tapi ada juga orang-orang yang menyebutkan bahwa kue keranjang ini sebenarnya berasal dari wilayah Suzhou, di China, dan pertama kali dibuat sejak 2.500 tahun yang lalu. Sebenarnya ada banyak sekali legenda dan kisah seputar kue keranjang.

Suzhou sendiri merupakan wilayah dari China kuno, yang terpisah karena adanya perang pada masa itu (722-481 SM), yang saat itu dipimpin oleh Wu Zixu. Wu memerintahkan semua prajurit untuk membangun tembok yang kuat, untuk mempersiapkan wilayah itu dari serangan musuh yang bisa datang kapan saja.

Wu juga berpesan bahwa jika situasi semakin parah, ia menyuruh prajurit dan semua warga untuk menggali lubang. Beberapa tahun setelah Wu meninggal, wilayah Suzhou menderita kelaparan, dan ketika mereka menggali lubang, mereka menemukan adanya tembok yang terbuat dari kue beras ketan.


STUDIO TANGKAS adalah Agen Tangkas Online, Agen Poker Online, Agen Poker GLX
Dapatkan BONUS CASHBACK TANGKAS 10%



Sejarah ini dipercaya sebagai awal mula terciptanya Nian Gao. Sejak saat itu, banyak orang yang membuat Nian Gao untuk memperingati kematian Wu Zixu. Seiring berjalannya waktu, Nian Gao berubah menjadi kue untuk perayaan Imlek.

Meski namanya Nian Gao, tapi jenisnya berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia contohnya, Nian Gao disebut sebagai kue keranjang, merupakan bentuk asimilasi dari budaya China dan Indonesia. Dari kue keranjang ini, muncul hidangan sejenis seperti wajik, jenang, hingga dodol.

Sementara di wilayah Fujian, Nian Gao digunakan sebagai hantaran atau hadiah saat Imlek. Bedanya Nian Gao di Fujian dibuat menggunakan beras ketan dengan taro, kemudian dipotong dulu sebelum dimasak dan disajikan. Banyak juga orang yang membalut kue keranjang ini dengan tepung terigu lalu digoreng hingga garing.

Lalu di wilayah Beijing, Nian Gao bisa dimasak dengan cara dikukus, atau digoreng, ciri khasnya tetap terletak pada rasa manis. Di Shandong, Nian Gao dibuat dari kurma merah, beras kuning, hingga rasanya unik dan tetap enak.

Kini jadi hidangan populer yang syarat akan tradisi Imlek. Kue keranjang menyimpan banyak makna, dan harapan dibalik kue manis ini. Selain dipercaya membawa keberuntungan, kue ini juga dianggap sebagai wujud harapan untuk memulai tahun baru lebih baik lagi.

"Rasa manisnya itu dimaksudkan agar berpikiran baik dan bicara yang manis. Lengketnya itu merupakan satu kesatuan, dengan falsafah pliketnya itu (lengket)," tutur Jongkie Tio, selaku ahli sejarah di Semarang kepada detikFood.

Selain itu kue keranjang juga melambangkan persaudaraan yang erat, digambarkan dalam teksturnya yang lengket. Kemudian bentuknya yang bulat, mirip seperti bulan, melambangkan kekeluargaan yang tak akan pernah ada batasnya, dan masih banyak lagi.

Nian Gao atau kue keranjang yang tradisional memang masih digemari hingga sekarang. Jika dulu, kue keranjang dibalut dengan daun pisang, kini variasi kue keranjang semakin beragam dan lebih modern. Orang-orang mulai menggantinya dengan plastik, hingga rasa yang beragam.

Penyajiannya juga tidak hanya dikukus saja, banyak orang yang membalut kue keranjang dengan tepung, kemudian diberikan isian selai, lalu digoreng hingga garing. Bahkan bentuknya juga tak hanya bulat saja, tapi ada yang dibentuk seperti ikan, karena ikan sendiri dipercaya dapat membawa keberuntungan.

Ada juga yang menggunakan kacang merah, parutan kelapa, menggabungkannya dengan keju. Atau dipanggang kemudian disajikan dengan kue dan pelengkap lainnya. Rasanya yang legit membuat kue imlek ini digemari banyak orang.



Posted by Studio Tangkas
Studio Tangkas | Agen Tangkas Online Indonesia

WhatsApp : +855 935 89 168

Comments

Popular posts from this blog

Berkedok Untuk Sumbangan, Pria Ini Buat Order Fiktif di Restoran Pizza

Awas Ngiler, 6 Batagor Bandung Terpopuler yang Wajib Dicoba

Tak Perlu Kopi Perkasa, 5 Minuman Ini Bisa Bikin Stamina Pria Greng